Kamis, 23 Oktober 2008

BIRD'S NEST RECIPES

CLEAR SIMMERED BIRD'S NEST
Ingredients:
113 g superior bird's nest, soaked until soft
1 mature chicken
300 g pork shoulder bone
19 g ham, sliced
2 slices of ginger
12 cups of water
salt
ham shreds

Method:
1. Remove the innards of chicken, wash, skin and cut off head and feet. Wash and parboil pork shoulder bone together with chicken. 2. Bring 12 cups of water to boil in crockery pot. Add chicken, pork shoulder bone, ham slices and ginger slices and bring them to boil. Reduce to low heat, cook for 3 hours and remove the residue from stock. 3. Pour stock into a stewing pot. Add bird's nest, cover and stew for 40 minutes. Dish up with stewing pot, season with salt or not and sprinkle with ham shreds.



BIRD'S NEST IN WINTER MELON
Ingredients:
150 g superior bird's nest, soaked until soft and stewed
3 kg winter melon
75 g dried lotus seeds
113 g chicken
113 g crab meat
38 g ham
4 cups stock
salt

Marinade:
1/4 tsp salt
1/2 tsp caltrop starch
1 tbsp water

Method: 1. Wash surface of winter melon, scoop out seeds and pith with a metal spoon. Parboil in boiling water, remove, rinse and drain. 2. Wash dried lotus seeds, soak until soft and seed. Slice half of the ham and shred the rest. 3. Dice chicken, marinate and parboil. 4. Put winter melon into a deep bowl. Add dried lotus seeds, ham slices and stock to the winter melon. Stew for 1 hour, add chicken, bird's nest and crab meat and stew for 20 more minutes. Season with salt, dish up in stewing pot and sprinkle with ham shreds.



STEWED BIRD'S NEST WITH BLACK CHICKEN AND CHINESE CORDYCEPS
Ingredients:
113 g superior bird's nest, soaked until soft and stewed.
13 g Chinese cordyceps
4 red dates
1 black-skinned chicken
113 g lean pork
2 slices of ginger
4 cups of boiling water
salt

Method:
1. Wash Chinese cordyceps. Wash and core red dates
2. Remove innards of black chicken and wash. Parboil, rinse and drain together with lean pork. Put chicken and lean pork into a stewing pot. Add Chinese cordyceps, red dates, ginger and boiling water. Cover and stew for 3 hours. Add bird's nest and stew for 30 minutes. Season with salt and dish up in stewing pot.



STEWED LILY BULBS WITH BLOOD-RED BIRD'S NEST
Ingredients:
113 g blood-red bird's nest, soaked until soft
19 g white fungi
2 fresh lily bulbs
3 cups stock
salt

Method:
1. Soak and trim white fungi. Tear into small pieces and wash. Parboil in boiling water, remove and drain. 2. Cut lily bulbs apart, wash and put them into a stewing pot. Add bird's nest, white fungi and stock, cover and stew for 1 1/2 hour. Season with salt and dish up in stewing pot



CHICKEN AND ABALONE CONGEE WITH BIRD'S NEST
Ingredients:
113 g superior bird's nest, soaked.
113 g long-grain rice
10 cups water
38 g small dried abalones
1/2 chicken
salt
ham puree

Method:
1. Wash and soak rice for 1 hour.
2. Cook abalones in boiling water over low heat for 10 minutes. Turn off the stove and cover for 30 minutes. Remove abalones, rub and wash with warm water (if wash with cold water, the gelatinous substance will solidify and the abalones will not become soft with cooked).
Cook abalones in the boiling water with ginger, spring onion and wine for 5 minutes. 3. Skin chicken, parboil in boiling water and rinse.
4. Bring 10 cups of water to the boil. Add chicken, abalones and rice and bring to the boil. Reduce to low heat and cook until congee is smooth. Remove chicken and abalones. Add bird's nest to congee and cook over low heat for 20 minutes. 5. Tear chicken into fine shreds and slice abalones. Add chicken and abalones to congee, season with salt and sprinkle with ham puree.



SHREDDED CHICKEN CONGEE WITH BIRD'S NEST
Ingredients:
113 g bird's nest, soaked until soft and stewed
113 g long-grain rice
1/2 chicken
1 slice of ginger
ham puree
spring onion dices
10 cups water
salt

Method: 1. Wash rice, combine with oil and salt and marinate for 1 hour. 2. Wash chicken, tear the skin off, parboil in boiling water and rinse. 3. Bring 10 cups of water to the boil. Add rice, chicken and ginger and bring to boil. Reduce to low heat and cook until congee is smooth. Remove chicken, tear into fine shreds and discard bone. Return chicken to congee, add bird's nest and cook for 5 minutes. Season with salt and sprinkle with ham puree and spring onion dices

Senin, 15 September 2008

Halmahera, Sentra Baru Cericit Walet

Oleh trubusid
Kamis, September 04, 2008 16:04:54
Klik untuk melihat foto lainnya...

Peta dalam buku Swifts A Guide to The Swifts and Treeswifts of The World karangan Phil Chantler dan Gerald Driessens pada 2000 tentang lokasi lintasan walet di kawasan Timur Indonesia perlu perbaikan. Keduanya tidak memasukkan Pulau Halmahera di Maluku Utara sebagai habitat si liur emas Collocalia fuciphaga. Padahal, 'Sejak lama di sana banyak sekali walet,' ujar Dr Boedi Mranata, praktikus walet di Jakarta Selatan.

Boedi membuktikan itu saat berkunjung ke pulau seluas 17.780 km2 itu untuk mengikuti undangan Lokakarya Awal Program Kemitraan untuk Pengelolaan Konservasi di Taman Nasional Aketajawe Lolobata, di Lolobata, Halmahera, Maluku Utara, pada April 2008. Kedatangan pengusaha sarang walet yang menjabat sebagai patron bird life Indonesia beserta rombongan itu bertujuan memperkenalkan Taman Nasional Aketajawe-Lolobata. Selama perjalanan ke sana Boedi mengamati keberadaan si liur emas.

Pengamatan dimulai sejak meninggalkan Manado menuju Bandara Sultan Baabullah di Ternate. Di ibukota Maluku Utara itu Boedi menyaksikan puluhan sriti terbang mencari pakan. 'Tapi tidak ada satu pun rumah walet di sana,' tuturnya. Pemandangan serupa terlihat saat menuju Pulau Tidore. Sriti beterbangan, tapi tidak ditemukan satu pun burung walet.

Sarang gua

Setelah bermalam di Ternate, perjalanan dilanjutkan menuju Halmahera menggunakan speed boat 40 PK. Sejam berlayar tibalah Boedi di Payahe. Dari sana alumnus Biologi di Universiteit Hamburg Jerman itu melanjutkan perjalanan ke Sidagoli sampai Jailolo. Sepanjang perjalanan Boedi melihat puluhan sriti terbang mencari pakan.

'Di sana ukuran sriti lebih besar dan gempal daripada saudaranya di Pulau Jawa,' kata pelindung dari pengelolaan Hutan Harapan di Jambi itu. Sekilas tubuh bongsor itu menyerupai walet. Harap mafhum, ukuran tubuh sriti hanya 10% lebih kecil dari walet. Di Pulau Jawa perbedaan itu sangat mencolok, mencapai 30%. Tak hanya itu, warna bulu sriti di sana lebih gelap. 'Bulu putih di dada yang menjadi penanda sriti tak terlihat secara kasat mata,' tutur Boedi.

Kehadiran walet di tanah Halmahera sangat mungkin. Musababnya, iklim di pulau itu cocok untuk walet. Suhu berkisar 28°C dan kelembapan 80-90%, misalnya. Selain itu 'Dari selatan sampai utara Halmahera terdapat bukit yang hutannya alami dan pohon-pohon kelapa di pinggir pantai,' tambah Boedi yang terbang dengan helikopter untuk melihat kondisi lingkungan Halmahera dari udara. Dengan kondisi itu dapat dipastikan: serangga, sumber pakan walet, melimpah.

Keyakinan Boedi terjawab setelah Basri Amal, sekretaris daerah (Sekda) Halmahera Tengah yang bertemu rombongan, menyebut kan Halmahera punya 2 sentra penghasil sarang walet: Loloda dan Wasile. 'Loloda yang terbesar,' ujar Basri. Sarang berasal dari gua-gua. Sayangnya, belum ada data volume produksi. Namun, berdasarkan pengamatan Basri produksi sarang bisa mencapai 200 kg/tahun.

Kualitas sarang yang dihasilkan tak jauh berbeda dengan sarang walet rumahan asal Pantura dan Sumatera. 'Tebal dan berbentuk mangkuk,' kata Basri. Penampilan sarang seperti itu terjadi karena musim hujan di Halmahera sangat panjang, rata-rata 10 bulan per tahun. Itu artinya walet tak perlu terbang jauh untuk mendapatkan serangga yang berkembangbiak di musim penghujan. Imbasnya energi yang ada lebih banyak dipakai untuk memproduksi liur.

Potensial

Lantaran berada di Indonesia Timur, kemungkinan besar tingkat keberhasilan putar telur di Halmahera sama seperti di Sulawesi Utara yang mencapai lebih dari 50%. Itu artinya bila 10.000 telur sriti ditukar dengan telur walet akan ada lebih dari 5.000 walet. Di Pulau Jawa hampir semua telur yang ditukar menetas, tapi yang kembali untuk bersarang hanya 10%.

Meski begitu bukan perkara mudah membuat walet berkembang di lokasi ini. Harap mafhum, banyak jalan antarkota dan daerah yang belum dibenahi sehingga akses menuju lokasi sangat sulit. Menurut Boedi bila kendala itu teratasi Halmahera potensial menjadi sentra walet di timur Indonesia. 'Semoga banyak investor yang melirik ke sana,' harap Boedi yang menutup perjalanan dengan melihat burung-burung endemik di Wedabe. (Lastioro Anmi Tambunan)

Sabtu, 16 Agustus 2008

Perilaku Seks Burung Walet

Musim kawin burung walet terjadi disaat musim hujan tiba dikarenakan ketersediaan pakan walet yaitu serangga sangat banyak dan berlimpah sehingga anak burung walet akan terjamin kelangsungan hidupnya. Walaupun koloni burung walet tinggal di rumah burung waet tetapi burung walet tidak akan melangsungkan perkawinan dengan saudaranya sendiri, karena kalau hal tersebut terjadi maka kualitas anakan tidak bagus bahkan terjadi cacat. Dengan demikian maka burung walet akan mencari pasangannya dari rumah burung walet yang lain atau yang tidak satu turunan dengannya. Perkawinan di udara Pada saat masa perkawinan tiba burung walet biasa melakukan perkawinan di atas udara. Salah satu dari sepasang burung ini terbang di depan lawan jenisnya dan tiba-tiba menahan sayapnya membentuk sudut besar horizontal atau bahkan vertical. Burung ini akan meluncur turun ke depan sedangkan burung yang dibelakang mengejarnya. Kemudian sepasang burung ini akan terbang normal dengan posisi terbang pejantan di atas dan betina terbang agak dibawah. Kemudian burung jantan langsung hinggap di punggung burung walet betina tersebut dan sepasang burung ini pun terbang meluncur turun dengan sudut kecil. Burung betina merentangkan sayapnya secara horizontal dan burung jantan merentangkan sayapnya secara vertical membentuk sudut. Sepasang burung ini akan membentangkan sayap dan ekornya selama terjadi perkawianan. Jika ketinggian terbang rendah salah satu burung ini akan sedikit mengepakan sayapnya setelah beberapa detik mereka kembali berpisah. Perkawinan di sarang Perkawinan di sarang dilakukan pada malam hari. Sang betina memanggil burung walet jantan dengan suara cicitannya, setelah mendengar suara walet betina yang berahi, burung walet jantan akan menuju ke tempat burung walet betina dan hinggap di punggung betina. Pasangan burung walet ini kemudian merenggangkan sayapnya dan terjadilah perkawinan. Proses perkawinan di sarang ini akan berlangsung beberapa kali dalam semalam.

Papua Surga bagi Satwa

Papua, 'Surga' bagi Satwa
Papua, INDONESIA -- juga Papua -- kaya dengan keanekaragaman hayati dan hewani. Tidak dapat terhitung banyaknya margasatwa di Indonesia yang terbentang dari Sabang hingga Merauke.

Seperti hewan-hewan di Indonesia bagian barat yang mempunyai ciri khas tersendiri, jenis hewan-hewan yang berada di Indonesia bagian timur juga merupakan bagian yang memiliki ciri khas tertentu, sehingga ada yang tidak dapat kita temui di bagian barat Indonesia.

Di Papua, satwa-satwa di daerah ini punya keunikan tersendiri. Burung cendrawasih merupakan salah satu jenis burung yang beberapa nama ilmiahnya berarti 'dari surga', 'agung', 'indah', dan 'sangat bagus'.

Ia juga disebut sebagai bidadari tak berkaki atau Apoda, dalam bahasa Latin burung cendrawasih digambarkan sebagai besar (paradisaea apoda). Burung yang sangat cantik tetapi tidak punya kaki dipercaya bukan berasal dari bumi karena mereka berjalan atau bertengger di pohon.

Tiga puluh jenis cendrawasih terdapat di Indonesia, 28 di antaranya ditemukan di Papua yang merupakan tempat tinggal cendrawasih berpial paradigalla carunculata, cendrawasih ekor panjang astrapia nigra, cendrawasih paratia parotia sefilata, cendrawasih Wilson cicinnurus respublica, dan cendrawasih merah paradiasea rubra.

Terdapat juga keragaman lain dari cendrawasih yang persebarannya terbatas hanya di Papua dan Nugini, yaitu cendrawasih ragiana, cendrawasih superb, cendrawasih magnificent, cendrawasih 'dua belas kawat', cendrawasih raja dan cendrawasih biru Nugini.

Sedangkan cendrawasih raja, cendrawasih botak, cendrawasih merah, toowa, dan cendrawasih kecil ekor kuning telah masuk dalam daftar jenis satwa yang dilindungi berdasarkan UU No 5 Tahun 1990 dan PP RI No 7 Tahun 1999.

Hutan di Papua seperti Aru dan Yapen merupakan habitat untuk si burung besar yang tidak dapat terbang: Kasuari. Di Australia tinggi burung ini bisa mencapai 180 cm dan berat 60 kg. sarangnya berada di bagian rendah dari hutan. Telurnya berwarna kehijauan dan berjumlah 3-5 butir. Lama pengeraman dapat mencapai 50 hari dan burung jantan yang melakukan tugas ini.

Jenis yang dilindungi adalah kasuari gelambir tunggal yang berada di bagian utara Papua. Jenis burung lainnya yang berada di kawasan Papua, yaitu kasuari raja psittrichas fulgidus. bentuk tubuhnya perpaduan antara burung nuri dengan gagak. Kepalanya menyerupai elang. Paruh dan ekor hitam, sedangkan sayap dan tunggingnya berwarna merah.

Papua merupakan rumah bagi sebagian besar hewan yang tidak dapat ditemukan di kawasan barat Indonesia. Di antaranya wallaby agile (macropus agilis), kanguru pohon wakera (denrolagus inustus), cendrawasih (ptiloris magnificus), kakatua raja (probosciger atterimus), dan kadal berjumbai (chlamydosaurus kingii).

Kadal merupakan jenis reptil yang cukup dikenal di Indonesia. Ada sekitar 300 jenis kadal di Indonesia dan 150 jenis di antaranya terdapat di Papua. Bentuk kadal di Indonesia cukup beragam, di antaranya yang berada di Papua adalah jenis D novaeguineae.

Untuk jenis biawak, keragaman yang paling tinggi juga berada di Papua, bahkan yang terpanjang sekitar 3 meter. Biawak salvadori (varanus salvadori) juga ada di sini. Soa Payung (chlamydoasurus kingii) berada di Papua bagian selatan.

Soa payung memiliki ciri punya lipatan tipis di leher, ditunjang oleh dua batang tulang, yang digunakan untuk mengancam mangsa. Kulit dekat kepalanya dapat mengembang untuk menakuti mangsanya.

Kupu-kupu masuk ke dalam jenis serangga lepidoptera yang berarti "sayap bersisik". Sejak tahun 1980-an Indonesia sudah melindungi kupu-kupu sayap burung yang beberapa jenis lain yang kurang menarik.

Siput dan keong masuk ke dalam kelas gastropoda Di Papua, siput berada di daerah Lembah Baliem, tepatnya di gua-gua Lembah Baliem dan daerah batu kapur. Siput berwarna-warni merupakan salah satu contoh yang banyak ditemukan di Papua.

Sanca hijau Irian (morelia viridis) merupakan jenis ular berwarna hijau yang hidup di hutan tropis Papua. Papua juga merupakan habitat untuk hewan-hewan yang hidup di dua alam, seperti kura-kura Irian yang habitatnya berada di sungai-sungai besar di Papua selatan, penyu hijau (chelonia mydas) dan buaya Irian (crocodylus novaeguineae) yang hidup di muara sungai sampai ke pedalaman di Papua sebelah utara. Papua benar-benar kaya. (Golda/S-5)

(sumber: media indonesia)

Selasa, 05 Agustus 2008

Landasan Sarang dari Styrofoam

Berdasarkan pengalaman saya  landasan sarang dari styrofoam ukuran lebar 2 cm , panjang 8 cm dengan ketebalan 2 cm yang diolesi dengan aroma P (untuk nesting plank)  kemudian dipasangkan di nesting plank, dalam waktu kurang dari 4 bulan, landasan sarang tersebut sudah dilapisi oleh liur burung walet.

Landasan sarang dari styrofoam ini mampu meningkatkan populasi burung walet 30 - 50% setahun. Landasan sarang ini berguna sebagai penopang sarang saja, sehingga sarang yang dihasilkan penuh dan besar, tidak seperti sarang imitasi plastik yang hanya sedikt diolesi liur oleh burung walet lalu digunakan untuk bertelur. 

Landasan sarang dari styrofoam ini memaksa dan memicu burung walet untuk membuat sarang secara utuh, karena styrofoam ini tidak dapat digunakan untuk meletakkan telur, oleh karena itu fungsi styrofoam ini akan meningkatkan produksi sarang.

Selain meningkatkan produksi sarang, styrofoam juga menambah populasi si liur emas putih. Populasi walet dan sarang meningkat setelah 2 kali tetasan. Panen dilakukan 8 bulan setelah tetasan terakhir itu. Pada periode pertama tetasan, anak walet menempati sarang yang dibuat induk sehingga sarang diisi 4 walet: induk jantan, betina, dan 2 anak hasil tetasan.

Supaya anakan burung walet tidak menggunakan sarang induknya sebagai tempat berdiam, landasan sarang yang telah diolesi dengan aroma P ini ditempel di dekat sarang induk, yaitu sekitar 10 cm dari sarang induk
Pada saat anakan burung walet matang gonad, yaitu berumur sekitar 9 bulan, maka anakan ini akan mampu membuat sarang di landasan sarang styrofoam.

Supaya anakan tidak kabur, sebaiknya sarang yang ada di landasan sarang dipanen  setelah melewati 2 kali tetasan. Bila 1 kali tetasan sarang induk sudah diambil, dikhawatirkan walet muda yang sedang belajar terbang atau mencengkeram tidak bisa mengenali sarang induknya dan dapat berakibat anakan burung walet akan mudah kabur sehingga populasi tidak meningkat.
Landasan sarang styrofoam dapat rusak dan berlubang, karena anakan burung walet sering mematuk-matuk styrofoam tersebut dan membentuk lengkungan. Oleh karena itu sebaiknya gunakan styrofoam yang lebih tebal, minimal 2 cm.

Rumah Burung Walet di Dataran Tinggi

Pada kebanyakan orang berkecenderungan membuat rumah burung walet di daerah yang ketinggiannya kurang dari 400 meter di atas permukaan laut (dpl). Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa mikro klimat rumah burung walet yang ideal adalah berkisar suhu udara antara 26 - 29 derajat Celcius dan kelembaban antara 80 sampai dengan 95%, sehingga lokasi yang ideal untuk rumah burung walet adalah di dataran rendah sampai dengan 400 meter dpl. 

Pada daerah dataran tinggi, misalnya  600 meter dpl, suhu udara luar berkisar antara 16 sampai dengan 22 derajat Celcius, dengan kelembaban udara antara 60% sampai dengan 70%. Melihat kondisi ini, maka daerah dataran tinggi (di atas 400 meter dpl) tidak ideal bagi perkembangan burung walet. Namun, seperti di Benteng Pendem, Ambarawa, Jawa Tengah, yang dihuni burung walet, terletak di 600 meter dpl setiap panennya menghasilkan sarang burung walet +/- 40 kg, hal ini disebabkan karena dinding Benteng Pendem ini tebalnya 80 cm sehingga suhu udara di dalam Benteng Pendem ini lebih hangat dibandingkan suhu udara luar.

Membudidayakan burung walet di dataran tinggi mempunyai keuntungan, karena di dataran tinggi masih banyak lahan pertanian dan perkebunan sehingga serangga yang merupakan pakan burung walet  lebih banyak tersedia. Dengan tersedianya pakan tersebut, maka burung walet tidak perlu terbang jauh untuk mencari makan. 

Suhu dan Kelembapan

Kendala yang dihadapi dalam membudidayakan burung walet di dataran tinggi adalah suhu dan kelembapan udara. Suhu dan kelembapan yang rendah membuat perkembangbiakan burung walet lebih lambat. Kelembapan udara dapat ditingkatkan dengan membuat kolam yang diisi air. Air di kolam ini selain berfungsi untuk meningkatkan kelembapan udara, juga berfungsi sebagai stabilisator suhu udara dan menjaga agar kelembaban udara relatif stabil.

Agar suhu udara di dalam rumah burung walet relatif stabil, maka RBW di dataran tinggi sebaiknya tidak banyak lubang ventilasi udara. Untuk setiap ukuran 4 m x 4 m, cukup 1 lubang ventilasi udara atas dan tidak diperlukan lubang ventilasi bawah. 

Dan perlu diketahui bahwa suhu udara dan kelembapan udara tidak hanya berkaitan dengan kualitas sarang walet tetapi juga berkaitan dengan daya tetas telur. Suhu dan kelembapan udara yang rendah akan mengurangi daya tetas telur. Oleh karena itu, di datran tinggi perkembangbiakan burung walet akan lebih pesat di musim kemarau dibandingkan di musim hujan, untuk itu pola panen rampasan yang biasanya dilalukan pada atau menjelang musim kemarau di dataran rendah tidak dapat diterapkan begitu saja di dataran rendah.  

Yang menjadi permasalahan, di dataran tinggi populasi walet masih sedikit, yang banyak justru burung sriti. Bila di RBW sudah ada burung sriti maka, harus dilakukan putar telur dan pergunakan suara walet agar burung walet tetasan tetap kembali ke RBW kita  dan yang penting mikro klimat yaitu suhu dan kelembapan udara dibuat semirip mungkin dengan habitat burung walet. Selain itu ketersediaan pakan juga merupakan salah satu kunci agar burung walet betah tinggal di dataran tinggi yang dingin dan kering. 


Konsep Dasar yang Tepat untuk Pembuatan Rumah Walet

Konsep Dasar yang Tepat untuk Pembuatan Rumah Walet

Oleh Newsroom
Senin, 06 Agustus 2007
Namun sayangnya, pembangunan rumah walet yang kian menjamur tidak dibarengi dengan produktivitas walet yang tinggi. Banyak faktor yang bisa menyebabkan hal itu terjadi. Misalnya, kekurangpahaman para pembudidaya walet dalam memperhitungkan konsep dasar pembuatan rumah walet.
Mengatasi Rumah Walet KosongPada dasarnya, memang tidak mudah memikat walet masuk ke rumah baru. Salah seorang pembudidaya walet mengakui rumah waletnya sudah lima tahun tidak berpenghuni, alias kosong dari walet. Padahal, habitat mikro rumah tersebut sudah memadai. Berbagai perlengkapan penunjangnya pun telah dioperasikan dengan baik. Setelah diteliti ternyata permasalahannya berasal dari kesalahan penempatan rekaman suara untuk memancing walet.
Salah satu cara yang paling efektif untuk mengatasi kondisi tersebut adalah dengan melakukan pemasangan tweeter di tempat yang tepat. Tweeter adalah speaker yang bekerja pada frekuensi tinggi. Umumnya, di rumah walet terdapat dua sumber suara, yakni berasal dari external sound dan internal sound. External sound biasanya ditempatkan di atas bumbung (wuwungan) dan di lubang masuk burung. Sementara itu, internal sound biasanya ditempatkan pada roving room dan nesting plank.
Untuk memanggil walet yang berada di kejauhan dapat menggunakan super external caller atau hexagonal tweeter. Hexagonal tweeter ini terdiri atas enam tweeter. Dengan demikian, suara yang keluar akan sangat keras, sehingga burung-burung walet yang sedang terbang di kejauhan dapat mendengarnya. Penggunaan hexagonal tweeter ini sangat efektif untuk memanggil hingga radius 500 m.
Sebaiknya semua tweeter menghadap ke arah lubang masuk burung. Dengan demikian, walet yang telah masuk ke dalam ruangan dapat mencari sumber suara dan menjelelajahi seluruh ruangan. Perlu diketahui pula, kesalahan dalam penataan tweeter justru akan mengakibatkan walet hanya keluar masuk tanpa menginap di ruangan atau rumah walet.
Lubang Masuk BurungLubang masuk burung memang merupakan salah satu faktor penting dalam membuat rumah walet. Karena melalui lubang masuk tersebut walet bisa mengetahui dan menempati rumahnya yang baru.
Hal pertama yang harus diperhatikan dalam membuat lubang masuk walet adalah mengetahui arus terbangnya. Pasalnya, walet memiliki sifat yang unik dan khusus, yakni hidup secara berkoloni dan terbang ke satu arah yang tetap. Oleh karena itu, jika ruangan walet tidak ditata sesuai dengan arus putar atau arus terbang walet, populasinya tidak akan maksimal.
Lantas, bagaimana penempatan lubang masuk walet yang tepat? Jika rumah walet Anda berukuran lebar delapan meter dan roving area berukuran minimum 4 x 8 meter, lubang masuk burung dapat ditempatkan di tengah dengan jarak dari plafon 40 cm. Sebaiknya, jarak lubang masuk dari plafon tidak melebihi 40 cm apabila nesting plank atau tempat bersarang lebarnya hanya 20 cm. Hal ini dimaksudkan agar cahaya yang masuk melalui lubang masuk walet tidak banyak membias ke nesting plank.
Ukuran lubang masuk walet dapat disesuaikan dengan populasi walet yang ada di rumah tersebut. Untuk rumah yang baru, disarankan lubang masuknya minimum berukuran 40 x 60 cm. Lubang masuk yang paling efektif untuk memikat walet adalah menghadap ke arah jalan pulang walet.
Namun, jika di rumah walet tersebut terdapat rumah walet lainnya yang telah berhasil membudidayakan walet, sebaiknya arah lubang masuk walet dibuat meniru rumah walet sebelumnya.
Kiat mengatasi rumah walet kosong ini diungkapkan A. Hendri Mulia, SE., CMA dalam buku Strategi Jitu Memikat Walet yang diterbitkan oleh AgroMedia Pustaka. Melalui buku ini, Hendri juga mengungkapkan cara membuat seluruh ruangan dihuni walet, tip memacu walet membuat sarang, dan teknik memikat walet dengan suara tiruan.